![]() |
| thelist.com |
Akhir-akhir ini anda pasti sering mendengar tentang kasus Bullying, masalah yang kerap terjadi pada anak-anak ini tentunya sangat tidak diharapkan oleh para orang tua. Mengawasi tingkah laku anak dalam bergaul adalah cara yang tepat untuk meminimalisir terjadinya bullying. Namun secara terus-menerus mengawasi anak sepanjang hari rasanya tidak mungkin dilakukan. Apalagi jika anak sudah memasuki usia sekolah, secara tidak sengaja anak bisa saja lolos dari pengawasan orang tuanya.
Bully adalah seseorang yang suka mengatakan atau melakukan sesuatu untuk menyakiti atau menguasai orang lain. Di beberapa sekolah juga dikenal sebagai tukang palak atau tukang intimidasi. Apa penyebabnya, dan bagaimana jika ternyata anak Anda bukan korban tapi justru pelaku bullying ini?
Yang pertama harus Anda lakukan adalah instropeksi diri dan kondisi keluarga karena pelaku bullying kebanyakan didorong oleh keadaan keluarganya sendiri.
Berikut ini adalah penyebabnya, seperti dikutip dari bullyonline.org:
- Frustrasi karena kegagalan akademis yang tidak tertangani, atau kegagalan di rumah misalnya orangtua bercerai.
- Pelaku bullying sebelumnya juga menjadi korban bully yang berkepanjangan sehingga berperilaku agresif adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri.
- Tidak ada teladan di rumah, sehingga tidak belajar mana perilaku yang benar dan salah.
- Mengalami kekerasan fisik di rumah sehingga melampiaskan kemarahan di luar rumah.
- Ditelantarkan di rumah, kurang perhatian, dan bahkan tidak diinginkan kehadirannya.
- Pengaruh negatif dari lingkungan. Jadi anak meniru apa yang ia pelajari di sekitarnya.
Nah, itulah beberapa penyebab terjadinya bullying. Semoga bermanfaat
(sumber : parenting.com)
