Akhir-akhir now kami kerap mendengar kata-kata begini "Wahhh, kebanyakan micin nih". Awalnya kami juga kurang faham apa sih maksud dari kata tersebut. Tetapi oleh karena terlalu sering mendengarnya entah dalam kehidupan sehari-hari maupun di sosmed, akhirnya kami mulai penasaran dan mencari tahu maknanya. Ternyata usut punya usut kami baru faham kalau kalimat tersebut adalah sebuah konotasi tentang deskripsi terhadap seseorang yang bergelar "maaf" bodoh, bego, blo'on, tolol atau sejenisnya.
Kami pun menarik kesimpulah bahwa "Manusia bisa bodoh akibat kebanyakan mengkonsumsi micin". Wahh, kalo berita hoax alias mitos begini beredar luas dalam masyarakat bisa bahaya nih. Kami pun berfikir tentang akibat yang ditimbulkan dikemudian hari begini, kalau orang khawatir jadi bodoh karena micin otomatis mereka tidak akan mencampur makanan mereka dengan micin, akhirnya penjualan micin pun menurun, kalo penjualan micin menurun akhirnya perusahaan micin bakal rugi, kalo perusahaan rugi lama-lama bisa bangkrut, kalo perusahaan bangkrut secara otomatis akan ditutup dan karyawan bakal di PHK. Panjang kan ceritanya...
![]() |
| examine.com |
Lantas bagaimana kita menyikapi fenomena micin ini? Yuk kita pelajari bersama pada ulasan berikut ini:
Sejarah Awal Mula MSG / Vetsin / Micin
MSG dikenal sebagai penambah rasa gurih masakan. MSG atau Mono Sodium Glutamat / vetsin / micin pertama kali dikenal publik sekitar tahun 1909. MSG pertama kali di produksi secara masal oleh perusahaan Ajinomoto. Setelah dikenal masyarakat luas maka bermunculan merk merk lain yang memproduksi MSG.
Siapakah orang yang menciptakan MSG / Vetsin / Micin?
Asal usul MSG bermula dari sebuah penelitian Prof. Kikunae Ikeda di tahun 1908 yang menemukan bahwa glutamat sumber rasa gurih. Glutamat didapat dari kaldu rumput laut berjenis kombu. Kemudian satu tahun berikutnya Saburosuke Suzuki mengkomersialkan glutamat yang diisolasi oleh Ikeda tersebut.
Kandungan MSG terdiri atas 78% glutamat, 12% Natrium dan 10% air. Kandungan glutamat inilah yang menyebabkan rasa gurih. Sebenarnya glutamat ini merupakan kelompok dari asam amino non esensial penyusun protein yang juga dapat di temui pada makanan lainnya seperti daging, keju, susu bahkan ASI. Perlu kita ketahui juga pada tubuh kita pun juga mengandung glutamat.
Glutamat dari MSG atau dari sumber makanan lainnya dapat diterima baik oleh tubuh yang juga digunakan untuk sumber energi pada usus halus. Senyawa ini sebenarnya adalah gabungan dari sodium/natrium (garam), asam amino glutamate dan air.
MSG seperti yang kita kenal saat ini terbuat dari tetes tebu atau singkong, bukan dari rumput laut seperti sejarahnya dahulu karena keterbatasan rumput laut. Kemudian dari bahan tersebut di lakukan fermentasi. Proses fermentasi tetes tebu ini dilakukan oleh bakteri Brevi bacterium lactofermentum yang pada akhirnya menghasilkan asam glutamat.
Setelah itu proses selanjutnya adalah memberikan tambahan garam sehingga terjadi pengkristalan dan membentuk kristal yang berwarna putih. (sumber : http:tentang-kehidupan-dunia.blogspot.com)
Apakah orang Jepang mengkonsumsi MSG/micin?
Sebenarnya nih, orang Jepang tak terlalu memusingkan apakah micin itu berbahaya atau tidak. Namun, mereka sadar betul kalau micin itu memang bikin ketagihan alias adiktif. Dan dalam kesehariannya, memang beberapa orang Jepang memakai micin untuk bumbu makanan. Bahkan disetiap rumah makan dan restoran selalu ditemukan MSG sebagai bahan campuran untuk menyedapkan makanan.
Jadi sekarang point penting yang bisa diambil berdasarkan fakta sejarah dan fakta ilmiah ini apa?
- Micin / MSG ditemukan oleh Ilmuwan Jepang dan dikonsumsi oleh masyarakat umum Jepang. Pertanyaannya adalah apakah orang-orang Jepang bodoh?
- Micin / MSG terbuat dari bahan alami (fermentasi tebu) yang juga terdapat pada makanan sehat lainnya seperti daging, keju, susu dll. Namun diolah sedemikian rupa sehingga membentuk kristal-kristal yang tujuannya adalah mempermudah dalam pengemasan dan penyajiannya.
