Pernah gak sih, Anda menjumpai nenek atau kakek jaman now yang masih nyirih (Jawa: nginang) ? Pada era 80-90an saat kami masih anak-anak banyak sekali dijumpai para sesepuh yang gemar minang. Limbah pinang banyak ditemukan dimana-mana bahkan hingga ada yang tersangkut di pagar rumah yang kebanyakan pagar rumah pada saat itu banyak yang terbuat dari bambu atau kayu. Maklum kami memang hidup di daerah pedesaan yang sangat tradisional.
Pada masa now memang sudah jarang lagi ditemukan orang tua yang nginang, kalaupun ada jumlahnya sedikit banget dan hanya ada dalam hitungan jari. Sebenarnya apa sih manfaat yang mereka dapatkan dari menkonsumsi buah pinang tersebut? Simak ulasan berikut ini :
Kandungan Dalam Buah Pinang
Berdasarkan penelitian oleh para ahli, yang dikutip dari ”The Merck Index”, zat yang terkandung didalam buah pinang seperti Arecoline yang merupakan sebuah ester metil-tetrahidrometil-nikotinat yang berwujud minyak basa keras. Dulu, zat tersebut digunakan dalam bentuk arecolinum hydrobromicum yang berfungsi untuk membasmi cacing pita pada hewan seperti unggas, kucing, dan anjing, sebelum ditemukannya obat cacing sintetik, seperti piperazine, tetramisole, dan pyrantel pamoate.![]() |
| faunadanflora.com |
Senyawa kimia lainnya yang terkandung dalam biji pinang adalah Arecaidine atau arecaine, Choline atau bilineurine, Guvacine, Guvacoline, dan Tannin dari kelompok ester glukosa yang menggandeng beberapa gugusan pirogalol. Sifat astringent dan hemostatik dari zat tannin inilah yang berkhasiat untuk mengencangkan gusi dan menghentikan perdarahan pada umumnya lansia. Namun kesan warna merah yang melekat pada liur dan gigi ini memang kurang sedap dipandang mata.
Cara nginang adalah sebagai berikut :
- Ambil 1 sampai 2 lembar daun sirih.
- Ambil sedikit kapur sirih, sedikit isi biji pinang yang muda, dan gambir kemudian bungkus dengan daun sirih tersebut.
- Kemudian kunyah daun sirih beserta isinya sampai hancur.
- Untuk membersihkan gigi, campur dengan tembakau secukupnya.
